JawaPos.com – Krisis ekonomi di Sri Lanka belum ada tanda-tanda membaik. Stok bahan bakar minyak (BBM) semakin menipis dan harga kebutuhan pangan makin melambung. Hal itu membuat rakyat makin frustrasi dan menjerit. Antrean untuk mendapatkan bantuan pangan murah mengular di mana-mana.

Pemerintahan sudah berupaya untuk mengatasinya. Presiden Gotabaya Rajapaksa bahkan meminta bantuan Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk memberikan BBM dengan harga murah. Itu dilakukan di tengah kekurangan devisa karena kesalahan dalam pengurusan ekonomi dan dampak krisis Covid-19. Sri Lanka saat ini kekurangan obat-obatan, makanan, dan bahan bakar yang cukup parah.

“(Saya) telah melakukan telecon yang sangat produktif dan menggembirakab dengan Presiden #Rusia, Vladimir Putin,” kata Gotabaya Rajapaksa dalam cuitannya di Twitter. Dia menambahkan bahwa pihaknya telah meminta dukungan kredit dari Rusia untuk mengimpor bahan bakar.

Dengan stok BBM yang hampir habis, Sri Lanka telah memperpanjang penutupan sekolah di seluruh negeri dan meminta pegawai negeri untuk bekerja dari rumah. Sri Lanka telah membeli minyak dari Rusia untuk mengatasi krisis, dan pemerintah telah mengindikasikan bersedia untuk melakukan pembelian lebih lanjut.

Hanya saja, hal itu belum bisa meredakan keresahan rakyat Sri Lanka. Mereka frustrasi dan marah, menilai pemerintah tidak becus dalam mengurus negara. Terbaru, rakyat Sri Lanka turun ke jalan melakukan unjuk rasa besar-besaran pada Sabtu (9/7) di ibu kota Sri Lanka, Kolombo.

Rakyat Sri Lanka turun ke jalan melakukan unjuk rasa besar-besaran pada Sabtu (9/7) di ibu kota Sri Lanka, Kolombo. Rakyat menuntut Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur. (Istimewa)


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.