New York (ANTARA) – Dolar AS tergelincir ke level terendah satu minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dari level tertinggi dua dekade pekan lalu, karena para pedagang memangkas taruhan tentang seberapa agresif Federal Reserve akan menaikkan suku pada pertemuannya akhir bulan ini.

Pejabat Fed mengisyaratkan pada Jumat (15/7/2022) mereka kemungkinan akan tetap dengan kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan 26-27 Juli, meskipun data inflasi tinggi baru-baru ini masih bisa menjamin kenaikan yang lebih besar daripada yang diantisipasi di akhir tahun.

Pedagang dalam kontrak berjangka yang terkait dengan suku bunga kebijakan dana federal jangka pendek Fed, yang telah condong ke arah kenaikan suku bunga persentase penuh, menggeser taruhan mereka dengan kuat mendukung kenaikan 0,75 poin pada pertemuan mendatang.

“(Ini) pembalikan harga yang jelas dari minggu lalu setelah angka ekspektasi inflasi 5 tahun UMich memudar, dan setelah (Gubernur Fed Christopher) Waller memberikan keraguan signifikan pada kenaikan yang lebih besar,” kata Michael Brown, kepala intelijen pasar di Caxton di London.

Pada Jumat (15/7/2022), survei awal konsumen Universitas Michigan untuk Juli menunjukkan konsumen melihat inflasi berjalan pada 2,8 persen selama lima tahun, terendah dalam setahun dan turun dari 3,1 persen pada Juni.

Pada Kamis (14/7/2022), Gubernur Fed Waller mengatakan dia mendukung kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi bulan ini. Hal ini mendorong taruhan pada kenaikan suku bunga 100 basis poin yang telah tumbuh setelah laporan Departemen Tenaga Kerja pada Rabu (13/7/2022) menunjukkan harga konsumen naik pada kecepatan tahunan 9,1 persen pada Juni.

Terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, dolar turun 0,48 persen menjadi 107,32. Indeks ditutup pada tertinggi dua dekade di 108,65 pada Kamis (14/7/2022).

Dolar mendapat sedikit dukungan dari data pada Senin (18/7/2022) yang menunjukkan sentimen pembangun rumah AS anjlok pada Juli ke level terendah sejak bulan-bulan awal pandemi virus corona, karena inflasi yang tinggi dan biaya pinjaman paling curam dalam lebih dari satu dekade membawa lalu lintas pelanggan hampir terhenti.

Beberapa pelemahan dolar pada Senin (18/7/2022) kemungkinan mencerminkan aksi ambil untung setelah reli yang kuat, kata Brown dari Caxton.

Euro, yang berada di bawah tekanan jual dalam beberapa sesi terakhir karena ketidakpastian tentang potensi krisis pasokan energi di zona euro, memangkas kenaikan setelah laporan Reuters bahwa Gazprom Rusia telah menyatakan force majeure pada pasokan gas ke Eropa ke Eropa, setidaknya satu pelanggan utama.

Euro terakhir naik 0,68 perseen pada 1,0158 dolar.

Dolar Selandia Baru naik 0,02 persen setelah data inflasi yang sangat tinggi memicu spekulasi kenaikan suku bunga yang lebih agresif, mendorong imbal hasil obligasi.

Dolar Australia, dilihat sebagai proksi likuid untuk selera risiko, naik 0,32 persen. Mata uang terkait komoditas juga mendapat dorongan setelah otoritas China mengisyaratkan dukungan untuk sektor properti, mengangkat harga bijih besi dan tembaga.

Kelemahan luas dalam dolar membantu mengangkat pound Inggris 0,75 persen menjadi 1,1959 dolar, tetapi reli mata uang Inggris dibatasi oleh risiko politik dan kekhawatiran resesi yang terus-menerus di Inggris.

Di pasar mata uang kripto, bitcoin naik 4,57 persen menjadi 21.876,5 dolar AS, memperpanjang pemulihannya dari aksi jual selama berminggu-minggu yang membawanya di bawah level 20.000 dolar AS.

Baca juga: Emas terangkat 6,60 dolar ditopang “greenback” yang lebih lemah

Baca juga: Minyak naik 5 dolar karena “greenback” lebih lemah dan pasokan ketat

Baca juga: Saham Inggris berakhir menguat, indeks FTSE 100 terkerek 0,90 persen


 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.