Perang di Ukraina sama sekali tidak lucu, tapi warga Ukraina belajar untuk menertawakan kengerian itu semua.

Bukan karena mereka mau, tapi karena harus, agar mereka bisa tetap waras di tengah kebrutalan yang menewaskan puluhan ribu orang itu.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan pasukannya, terutama yang tewas dan terluka, adalah target favorit humor masa perang Ukraina yang kelam.

Tapi ada batasannya: warga Ukraina yang tewas tidak boleh ditertawakan dan pertempuran paling mengerikan, di antaranya pengepungan Mariupol dan pabrik baja Azovstal di kota itu, merupakan materi yang terlalu menyinggung. Demikian juga kekejaman di Bucha dan tempat lainnya.

Komedian paling terkenal Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang kini menjadi presiden negara itu, terpilih dalam pemilu tahun 2019.

Dalam serial komedi televisi “Servant of the People,” mantan komedian tunggal dan aktor yang memerankan karakter guru SMA seru itu tidak sengaja menjadi presiden. Di dunia nyata, ia kemudian benar-benar menjadi presiden.

Akan tetapi Zelenskyy tidak punya alasan untuk berkomedi sejak invasi Rusia 24 Februari lalu mendorongnya berperan sebagai pemimpin perang. Pidatonya kepada rakyat Ukraina dalam bentuk video harian seringkali bernuansa suram namun kuat.

Warga Ukraina Belajar Menertawakan Kengerian Perang

Volodymyr Zelenskyy, mantan komedian tunggal dan aktor yang kini menjadi Presiden Ukraina (foto: dok).

Sementara ia berupaya menggalang dukungan internasional, para tentara bertempur menggunakan tank, artileri dan persenjataan yang dipasok Barat, warga Ukraina yang tinggal jauh dari medan tempur menggunakan lelucon dan humor sebagai senjata mereka untuk memerangi kecemasan dan kemurungan masa perang, memerangi Rusia, dan untuk mempersatukan mereka dengan cara tertawa dan menangis bersama dalam kesedihan dan amarah.

Komedian tunggal Anton Tymoshenko mengatakan kepada Associated Press, “Saya rasa ini satu-satunya cara menyelematkan kesehatan mental Anda dalam peperangan. Karena saya tidak punya uang untuk ke psikoterapis. Banyak orang Ukraina yang tidak punya uang untuk ke psikoterapis dan komedi tunggal adalah psikoterapi yang sangat murah. Anda cukup membayar delapan atau sepuluh dolar, itu harga tiketnya, dan Anda bisa tertawa selama satu jam. Saya rasa itu membantu. Tertawa di kala perang itu sungguh tidak apa-apa.”

Tymoshenko dan komedian lainnya tampil pada akhir pekan di sebuah klub komedi di ibu kota, Kyiv.

“Tidak ada komedian yang menggunakan bahan lawakan lama saat ini. Semuanya menulis materi baru tentang perang, tentang pengalaman baru. Tapi sepertinya sekarang orang-orang sudah sedikit bosan dengan lelucon tentang perang, mereka membutuhkan lelucon lain. Sambutan mereka kurang hangat untuk lelucon tentang perang sekarang, karena kami melawak tentang hal itu terus-menerus, jadi orang sedikit muak dengan tema yang itu-itu lagi. Karena lelucon ‘orang Rusia itu bodoh,’ bukan hal baru buat mereka,” lanjutnya.

Salah seorang penonton, Yuliia Shytko, mengaku merasa jauh lebih bersemangat setelah tertawa terbahak-bahak dengan seluruh penonton melalui penampilan para komedian. “Berkat mereka kami bisa berkumpul dan menikmati waktu bersama. Rasanya sangat menyenangkan. Saya yakin sangat sulit bagi mereka untuk menulis lelucon-lelucon itu, tapi komedi mereka membantu semua orang. Keren sekali,” tukas Yuliia. [rd/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.