Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyerukan sanksi-sanksi baru terhadap sektor nuklir Rusia di tengah-tengah kekhawatiran mengenai serangan artileri di pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia di Ukraina Selatan.

Zelenskyy, dalam pidato pada Senin malam, memperingatkan tentang potensi “malapetaka” yang akan mengancam negara-negara lain di kawasan.

“Jika sekarang dunia tidak menunjukkan kekuatan dan ketegasan untuk mempertahankan satu PLTN, ini akan berarti dunia telah kalah,” kata Zelenskyy.

Rusia maupun Ukraina telah menuduh pihak lainnya menembakkan senjata di dekat fasilitas itu.

Ukraina Desak Sanksi-Sanksi Baru di Tengah Kekhawatiran Serangan terhadap PLTN

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang berada di bawah kendali militer Rusia, Ukraina tenggara. (Foto: via AP)

Ini berlanjut pada Senin. Seorang pejabat yang ditempatkan Rusia di Enerhodar mengatakan serangan artileri Ukraina mendarat di dekat PLTN, sementara seorang pejabat Ukraina mengatakan pasukan Rusialah yang sebenarnya menggempur daerah itu dalam upaya membuatnya seperti serangan Ukraina.

Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov mengatakan kepada VOA bahwa “tidak masuk akal bagi kami” untuk menyerang fasilitas itu “karena sekarang ini kami memahami bahaya nuklir sepenuhnya bagi umat manusia. Kami selamat dari tragedi Chernobyl pada tahun 1986. Rakyat Ukrainalah yang tahu persis tragedi Chernobyl dan berapa orang yang meninggal kemudian karena radiasi.”

“Itu sebabnya kami meminta semua orang untuk campur tangan, dan kami meminta tidak hanya Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tetapi seluruh komunitas internasional untuk campur tangan dan menggunakan pengaruh mereka agar ini tidak menjadi penyebab bencana nuklir lainnya di Eropa,” kata Reznikov.

Dengan kekhawatiran mengenai bencana itu, kata Reznikov, “Kami yakin bahwa unit-unit Rusia tidak boleh terkonsentrasi di sana dan apa yang terjadi sekarang ini adalah provokasi semata dan semacam permainan untuk menguji ‘saraf nuklir’ masyarakat dunia.”

PBB mengatakan Sekjen Antonio Guterres membahas kondisi bagi pengoperasian PLTN itu secara aman dalam percakapan teleponnya dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu.

Juru bicara Guterres, Stephane Dujarric mengatakan kepada wartawan ada kemampuan logistik dan keamanan di Ukraina untuk mendukung kunjungan para inspektur IAEA ke PLTN itu, jika Rusia dan Ukraina menyetujuinya.

Juru bicara kementerian luar negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan Rusia akan melakukan “semua yang diperlukan” bagi kunjungan personel IAEA ke lokasi itu. Media pemerintah Rusia kemudian mengutip Igor Vishnevetsky, deputi kepala departemen pengendalian senjata dan proliferasi nuklir di kementerian tersebut yang mengatakan akan terlalu berbahaya bagi misi IAEA untuk melakukan perjalanan melalui Kyiv guna mengunjungi PLTN itu.

Militer Ukraina melaporkan serangan artileri hebat hari Senin oleh pasukan Rusia, dengan sedikitnya tiga warga sipil Ukraina tewas dan 20 lainnya cedera. [uh/ab]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.