Alberto Carvalho adalah salah satu dari hampir 600 staf pendidikan di Los Angeles yang melakukan aksi door to door untuk mencari para murid yang hilang Agustus ini. Sebagai pengawas pendidikan distrik Los Angeles, ia ingin kelas-kelas musim gugur yang umumnya dimulai 15 Agustus dihadiri sepenuhnya oleh para siswa .

“Hari ini semua pihak turun tangan. Kita melakukan semua pendekatan yang diperlukan, tidak hanya menangani masalah kehadiran siswa, tetapi juga untuk mengidentifikasi anak-anak yang hilang dari sekolah-sekolah di Los Angeles. Ada ribuan anak yang tadinya kami pikir telah meninggalkan komunitas mereka, tidak terdaftar di sekolah, tapi nyatanya, mereka ada di dalam komunitas. Mereka hanya melepaskan diri, mereka terputus, mereka hilang dari radar. Jadi hari ini kami menarget siswa yang menunjukkan tingkat ketidakhadiran kronis tahun lalu,” jelas Carvalho.

Para Pendidik di LA Berburu Siswa yang “Hilang”

FILE – Pengawas Sekolah Umum Miami, Dade Alberto Carvalho dalam konferensi pers, di Miami, Selasa, 9 November 2021. (AP Photo/Lynne Sladky, File)

Tahun lalu, 50 persen siswa di Los Angeles tergolong sebagai mereka yang memiliki tingkat kehadiran rendah di kelas. Awalnya, banyak pihak menduga ini terkait dengan aturan karantina dan masalah lain terkait pandemi. Tapi ternyata, banyak di antara mereka yang memang malas dan tidak merasakan pentingnya pendidikan sehingga memilih absen dari kelas.

Yordi Luna, seorang siswa SMA adalah salah satu anak yang dikunjungi Carvalho. Luna merasa pandemi mendorongnya untuk mengabaikan pendidikan.

“Saat kelas daring diberlakukan, saya memilih absen karena sangat mudah untuk bisa absen. Sepanjang tahun lalu, saya mungkin hanya hadir tiga kali untuk mengikuti pelajaran. Selama SMA, saya kehilangan rasa pentingnya sekolah, jadi saya berhenti bersekolah,” jelas Yordi Luna.

Setelah dibujuk Carvalho, Luna berjanji untuk kembali ke sekolah. Ia mengaku bersemangat untuk kembali bertemu teman-temannya. Ia bahkan antusias bergabung dengan tim football sekolahnya.

Ilustrasi - Dalam file foto 18 Agustus 2020 ini, Guru Matematika Doug Walters duduk di antara meja kosong saat konferensi video dengan guru lain untuk mempersiapkan pembelajaran di rumah di SMP Twentynine Palms di Twentynine Palms, California. (AP/Gregory Bull, File)

Ilustrasi – Dalam file foto 18 Agustus 2020 ini, Guru Matematika Doug Walters duduk di antara meja kosong saat konferensi video dengan guru lain untuk mempersiapkan pembelajaran di rumah di SMP Twentynine Palms di Twentynine Palms, California. (AP/Gregory Bull, File)

Wendy Cantor, ibu dari enam anak usia sekolah, mengaku, kelas daring menyulitkan anak-anaknya untuk belajar. Dan itulah, katanya, alasan utama mengapa tingkat kehadiran anaknya di kelas sangat rendah.

“Yah, dengan laptop itu sulit. Internet benar-benar tidak stabil. Kadang-kadang laptop berhenti berfungsi. Walhasil, mereka tidak bisa fokus belajar dan mereka berhenti belajar,” kata Cantor.

Untuk membangkitkan gairah belajar, para pendidik di Los Angeles membagikan berbagai kebutuhan sekolah, terutama tas sekolah dan alat tulis menulis. [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.