Masalahnya adalah, bagaimana menyeimbangkan kebutuhan akan bakat penelitian asing untuk mempertahankan keunggulan inovasi terhadap China, sambil tetap melindungi keamanan nasional dan ekonomi.

Saat anggota-anggota Kongres memperdebatkan cara untuk memastikan keunggulan Amerika di tengah pertarungan teknologi dengan China, para pakar mengatakan Presiden Xi Jinping mengamati Amerika dengan seksama dan akan memastikan agar universitas-universitas risetnya berada di garis depan.

Studi menunjukkan lebih tiga dari empat ilmuwan asing kini sedang melakukan penelitian ilmiah di Amerika karena negara ini tidak memiliki cukup lulusan sains lokal untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Mantan Wakil Menteri Pertahanan untuk Intelijen dan Keamanan, Kari Bingen mengatakan, “Banyak lulusan itu – mereka yang menyandang gelar PhD – meninggalkan negara ini setelah lulus karena masalah imigrasi.”

Bingen adalah salah satu dari 18 mantan pejabat keamanan nasional Amerika yang menandatangani surat yang meminta Kongres untuk mencabut pembatasan terhadap imigran yang memiliki gelar tinggi dalam bidang sains dan teknologi.

Kari Bingen menambahkan, “Jika kita ingin memenangkan pertarungan teknologi ini, kita membutuhkan orang dengan kecerdasan terbaik di Amerika dan dunia.”

Tetapi para pakar keamanan mengatakan China dengan aktif mengeksploitasi ketergantungan Amerika pada bakat asing.

Pakar keamanan nasional yang juga mantan pengacara di Departemen Kehakiman Amerika Jamil Jaffer mengatakan, “Mereka telah mengirim orang-orang ke Amerika dalam kapasitas sebagai peneliti, mahasiswa, pengunjung; sejujurnya mereka telah mengkooptasi orang Amerika di dalam institusi-institusi akademisi dan sejenisnya lewat program “Thousand Talents” atau “Seribu Bakat” yang merupakan upaya untuk mencuri kekayaan intelektual Amerika.”

Profesor Song Guo Zheng di di Universitas Ohio mengakui ia menyembunyikan keterlibatannya dalam upaya perekrutan bakat China sehingga ia dapat menggunakan hibah pemerintah bernilai jutaan dolar untuk mengembangkan kepakaran medis China. Ia sedang menjalani hukuman tiga tahun penjara.

Belum Ada Mekanisme untuk Lindungi Penelitian Sensitif

Bersaing dengan China, AS Perketat Pemeriksaan Keamanan Peneliti Asing

Direktur FBI Christopher Wray

Ketika tampil bersama kepala badan intelijen dalam negeri Inggris M15 Rabu lalu (6/7), Direktur Biro Penyidik Federal AS (FBI) Christopher Wray mengeluarkan peringatan mendesak untuk bisnis.

“Pemerintah China akan mencuri teknologi Anda, apapun yang membuat industri bergerak, dan menggunakannya untuk melemahkan bisnis serta mendominasi pasar Anda,” tukasnya.

Sehari kemudian juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menanggapi pernyataan itu. “Pernyataan pejabat intelijen ini sepenuhnya menunjukkan mentalitas Perang Dingin yang mengakar, dan prasangka ideologisnya.”

Mantan penasehat Departemen Pendidikan Dan Currell mengatakan universitas dan lembaga-lembaga pemberi hibah harus mengembangkan lebih banyak perlindungan untuk melindungi penelitian yang sifatnya sensitif. Saat ini tidak ada cetak biru untuk menyeleksi peneliti internasional.

“Benar-benar tidak ada sistem yang jujur untuk mengkaji hal itu, dan tentu saja untuk melihat bagaimana hal ini dapat terjadi, dan siapa yang terlibat,” ujarnya.

Para pakar mengatakan mengembangkan sistem itu merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan Amerika.

Kembali Kari Bingen mengatakan, “Kita berada dalam pertarungan teknologi dengan China, dan ada kemungkinan besar kita akan kalah.” [em/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.