GenPI.co Jatim – Kasus pelecehan seksual, terlebih setelah adanya kasus anak kiai Jombang mulai menjadi bahan pembicaraan.

Melihat kasus yang terjadi di Ponpes Jombang itu membuat orang tua khawatir untuk memasukkan anaknya ke pesantren.

Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Didid Haryadi menuturkan, perlu adanya kontrol sosial terkait adanya pelecehan seksual di lingkungan pendidikan pesantren.

BACA JUGA:  Polisi Tangkap Dimas Kanjengnya Banyuwangi, Rp260 Juta Raib

Lanjutnya, kontrol sosial itu harus dilakukan dari berbagai pihak, mulai pengelola institusi pendidikan hingga pembuat regulasi pendidikan itu sendiri.

“Artinya, masyarakat perlu memaknai secara esensial bahwa lembaga pendidikan adalah wadah untuk memproduksi pengetahuan. Kasus itu (kekerasan seksual, red) sangat mencoreng pondok pesantren,” ucap dosen dengan kajian Sosiologi Agama ini pada GenPI.co Jatim, Senin (11/7).

BACA JUGA:  20 SDN di Pamekasan Berdiri di Tanah Milik Pribadi, DPRD: Gawat

Dengan demikian, kredibilitas pondok pesantren maupun lembaga pendidikan agama sangat terdampak dengan adanya kasus ini dan perlu ditindaklanjuti secara hukum.

“Mencoreng kredibilitas pondok baik secara umum maupun pendidikan secara khusus. Sangat tidak bisa dibenarkan,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Anak Kiai Jombang Segera Disidangkan, Kepolisian Siap Kawal

Menurutnya dalam hal ini agama merupakan sebuah kohesi sosial yang merupakan kondisi dimana setiap elemen sosial dalam masyarakat berfungsi memberikan standar norma bagi hidup bersama. Secara etimologi kohesi merupakan kemampuan suatu kelompok untuk menyatu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Artikel ini bersumber dari jatim.genpi.co.