GenPI.co – Ketua Umum Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia MA Muhammadyah mengatakan bea keluar ekspor CPO sebesar USD 288 yang masih membebani petani harus dicabut.

Sebab, menurutnya, bea keluar yang terlalu tinggi harga TBS (tandan buah sawit) belum menampakan kenaikan yang signifikan.

Selain itu, Muhammadyah juga menyebut harga ekspor CPO saat ini juga menurun jauh dibandingkan sebelum ada pelarangan ekspor CPO oleh pemerintah.

BACA JUGA:  Rugikan Petani Sawit, APPKSI Minta Pungutan Ekspor CPO Dihapus

Di sisi lain, saat ini juga sedang terjadi penurunan harga CPO yang disebabkan harga minyak nabati dunia yang turun karena ada kenaikan pasokan,” ujar Muhammadyah pada Selasa (26/7).

Seperti diketahui, Tradingeconomics mencatat harga CPO dunia pada Selasa (19/7) turun ke MYR 3.858 per ton, setelah sempat menguat ke atas MYR 3.950 pada 18 Juli 2022.

BACA JUGA:  Penyesuaian Tarif CPO Beri Keadilan Industri Kelapa Sawit Rakyat

Akhir pekan lalu, harga CPO sempat sentuh level terendah setahun ke kisaran MYR 3.500 per ton.

Oleh karena itu, Muhammadyah menyebut bea keluar ekspor CPO harus dicabut karena membebani Harga TBS Petani.

BACA JUGA:  Indonesia Terbitkan Izin Ekspor Sawit, Harga CPO Ambruk

Muhammadyah menerangkan saat ini harga CPO dikisaran USD 1185 per metrik ton dan dibebani bea ekspor sebesar USD 288 US dollar per metrik ton.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Artikel ini bersumber dari www.genpi.co.