New York: Saham-saham di Wall Street terkoreksi pada akhir perdagangan yang fluktuatif Senin (Selasa pagi WIB) karena kejatuhan saham bank besar serta Apple.
 
Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 215,65 poin atau 0,69 persen menjadi 31.072,61. Indeks S&P 500 merosot 32,31 poin atau 0,84 persen menjadi 3.830,85. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 92,37 poin atau 0,81 persen menjadi 11.360,05.
 

Pada awal perdagangan, ketiga indeks utama AS membukukan kenaikan solid dengan Dow naik lebih dari 350 poin pada tertinggi sesinya.
 

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor perawatan kesehatan dan utilitas masing-masing terpangkas 2,15 persen dan 1,4 persen, memimpin penurunan. Sektor energi menguat 1,96 persen, menjadikannya kelompok berkinerja terbaik menyusul lonjakan harga minyak.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Investor mencerna banyak laporan keuangan kuartalan perusahaan. Saham Goldman Sachs naik 2,5 persen setelah raksasa keuangan itu menghasilkan laba dan pendapatan kuartal kedua yang melebihi perkiraan analis dibantu oleh kekuatan dalam perdagangan pendapatan tetapnya.
 
Bank of America jauh dari perkiraan laba analis di Wall Street, tetapi pendapatannya sesuai dengan pandangan analis. Sahamnya ditutup ditutup melemah setelah membukukan kenaikan solid di awal sesi.
 
Saham Apple berbalik arah menjadi turun 2,1 persen, setelah sebuah laporan mengatakan perusahaan berencana untuk memperlambat perekrutan dan pengeluaran tahun depan di beberapa unit untuk mengatasi potensi penurunan ekonomi.
 

Johnson & Johnson, Netflix, Tesla, dan United Airlines adalah beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerja keungannya pekan ini.
 

Pekan lalu, Dow tergelincir hampir 0,2 persen, sedangkan S&P dan Nasdaq masing-masing turun 0,9 persen dan 1,6 persen.
 
“Volatilitas pasar tampaknya akan bertahan sampai investor memiliki kejelasan yang lebih besar,” kata analis UBS dalam sebuah catatan dikutip dari Antara, Selasa, 19 Juli 2022.
 
Analis UBS menambahkan penggerak utama pasar pada paruh kedua 2022 adalah persepsi investor tentang apakah kita menuju stagflasi, reflasi, soft landing, atau kemerosotan.
 
“Dalam kasus dasar kami untuk soft landing, kami pikir saham sebagian besar akan terikat dengan volatilitas yang terus meningkat karena investor menilai daya tahan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan dalam menghadapi kenaikan suku bunga Fed yang agresif dan penurunan pendapatan konsumen riil,” kata Kepala Investasi untuk Amerika di UBS Global Wealth Management Solita Marcelli. 
 

(SAW)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.