Shinta Widjaja Kamdani, Memimpin Transformasi Menuju Sustainable Company
Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group. (Foto womensobsession.com).

Sintesa Group adalah salah satu kelompok usaha ternama di Indonesia. Sebagai strategic investment company, Sintesa menaungi empat pilar bisnis utama: consumer product, industrial product, energi, dan properti. Ke-4 segmen bisnis ini dikelola oleh 16 anak perusahaannya, yang dua di antaranya sudah go public. Sintesa yang punya beragam usaha ini diperkuat sekitar 2.500 karyawan, yang bekerja di berbagai wilayah Indonesia.

Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group, mengatakan bahwa pandemi selama sekitar dua tahun secara umum telah mengakibatkan disrupsi pada bisnis kelompok usaha ini. Namun, kinerja anak-anak perusahaan itu bervariasi sesuai dengan sektor bisnisnya. “Pukulan terberat dialami pilar bisnis properti,” ungkap alumni Barnard College of Columbia University ini, seraya menyebutkan bahwa pihaknya mengelola bisnis hotel di beberapa lokasi di Indonesia.

Pilar-pilar bisnis Sintesa lainnya, menurut Shinta, relatif lebih stabil. Di pilar bisnis energi, Sintesa telah memiliki power purchase agreement jangka panjang dengan PT PLN (Persero). Di bisnis ini, pengaruh pandemi lebih pada rencana bisnis yang terpaksa dimundurkan.

Stabilitas juga dialami pilar bisnis industrial product, meskipun sempat terganggu oleh pasokan baja akibat kondisi global dan kebijakan impor yang diperketat. Namun, tahun lalu pilar bisnis ini masih bisa membukukan laba lewat bisnis penjualan gas dan manufaktur yang meningkat, sehingga mampu menutupi hasil penjualan unit bisnis lain yang menurun di pilar ini.

Pilar bisnis lainnya, consumer product, justru mengalami pertumbuhan. Pilar bisnis ini dikelola oleh PT Tigaraksa Satria Tbk. selaku distributor beragam produk konsumer, dan PT Sintesa Duta Sejahtera yang bergerak di bidang kesehatan.

Pandemi, dikatakan Shinta, telah memaksa mayoritas perusahaan di grup ini melakukan perubahan, mulai dari cara menjalankan operasional bisnis hingga pengembangan produk dan servis. “Tepat pada 100 tahun perjalanan bisnis Sintesa, kami melakukan transformasi penting yang menandai era baru Sintesa Group sebagai perusahaan dengan visi ‘Towards sustainable excellent company’,” kata perempuan yang menjabat sebagai Ketua B20 Indonesia 2022 ini.

Dengan demikian, kebijakan pengembangan bisnis sejak pandemi mengacu pada prinsip Responsible Invesment. Di antaranya, investasi yang dilakukan berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs). Prioritas investasi pun dilakukan pada sektor bisnis yang ditetapkan dalam Impact Investment Market Map, yang indikatornya dikembangkan oleh Global Investor for Sustainable Development (GISD) Alliance.

Karena concern-nya selama ini, Shinta terpilih menjadi salah seorang dari 30 member GISD Alliance yang ditunjuk oleh Sekjen PBB. Terkait dengan hal ini, Sintesa pun mengembangkan Road Map SDGs bertajuk Sintesa untuk Bumi, sebagai strategic action untuk penerapan SDGs di seluruh perusahaan grup ini. Dari hasil pemetaan itu, investasi berkelanjutan yang dilakukan Sintesa Group melalui tiga segmen: Sintesa Health, Sintesa Energy, dan Sintesa Ecotourism.

Sintesa Health terkait dengan komitmen pada SDGs nomor 3: Good Health and Well Being. Anak perusahaan bernama PT Sintesa Duta Sejahtera ⸺beroperasi sejak 2013⸺ berkontribusi pada perbaikan kondisi kesehatan. Dengan pola bisnis B2B, perusahaan ini menyediakan berbagai suplemen kesehatan, cosmeceutical, hingga produk farmasi berbahan dasar alami.

Sintesa Energy yang melakukan ekspansi usaha lewat impact investment akan berkontribusi pada SDGs nomor 7: Affordable and Clean Energy. Portofolio ini dikelola oleh dua perusahaan. Yang satu merupakan independent power producer untuk gas dan uap, dan satunya lagi merupakan perusahaan yang memperoleh izin eksplorasi dan eksploitasi geothermal yang merupakan energi bersih (energi baru dan terbarukan).

“Pemimpin yang berkarya berdasarkan nilai-nilai perusahaan dapat mendorong perusahaan berkembang lebih baik dan lebih efektif.”

Shinta Widjaja Kamdani , CEO Sintesa Group

Adapun Sintesa Ecotourism, dengan konsep pariwisata berkelanjutan, akan berkontribusi pada SDGs nomor 8: Decent Work and Economic Growth, juga SDGs nomor 12: Responsible Consumption and Production. Proyek ecotourism yang sedang dikembangkan adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, yang meliputi resor, akomodasinya, fasilitas entertainment, dan fasilitas MICE.

Demi memimpin transformasi perusahaan menuju bisnis berkelanjutan itu, Shinta menggunakan strategi memulainya dengan penanaman corporate values. “Pemimpin yang berkarya berdasarkan nilai-nilai perusahaan dapat mendorong perusahaan berkembang lebih baik dan lebih efektif,” kata Founder Indonesia Business Coalition for Women Empowerment ini.

Menurutnya, nilai-nilai yang tertanam ini bisa menjadi spirit yang menyatukan sistem, proses, dan strategi. Nilai-nilai korporat yang ditanamkan Sintesa Group ini disebut 4E: Empathy, Empowerment, Excellence, dan Entrepreneurship.

Dalam hal aspek bisnis, menurut Shinta, strategi bisnis yang dijalankan Sintesa Group adalah memperluas portofolio bisnis dengan bisnis-bisnis yang menghasilkan arus kas yang lebih besar (heavy cash flow) sekaligus memiliki dampak lingkungan-sosial. Selama pandemi, Sintesa juga melakukan pengawasan dan penyesuaian pada cash flow management di anak-anak usaha, khususnya yang bergerak di sektor yang terdampak.

Untuk mengeksekusi strategi-strategi tadi, ia menerapkan pendekatan Collective Leadership. Ini adalah model kepemimpinan yang melibatkan jajaran manajemen dan karyawan dari setiap perusahaan untuk bekerjasama. Ia mengakui butuh waktu agar semua lini memiliki visi yang sama.

Lalu, mengacu pada Road Map SDGs, Sintesa Group membentuk Sustainability Committee untuk membangun sinergi yang dapat mempercepat pencapaian SDGs di seluruh anak perusahaan. Organisasi Sustainability Committee yang beranggotakan perwakilan dari anak-anak perusahaan ini terdiri dari sejumlah tim, yakni Executive Committee, Working Group, Policy Committee, dan Task Force.

Teknologi informasi tentu tak lepas dari perkembangan bisnis Sintesa Group. Menurut Shinta, dalam 10 tahun terakhir pihaknya telah memanfaatkannya untuk mendukung bisnis, yang setiap tahun diperbarui. “Kami sudah melakukan transisi digital sejak masa prapandemi,” ujarnya. “Pandemi telah mengakselerasi transisi bisnis ke arah digitalisasi dengan lebih cepat,” ia menambahkan.

Sebagai hasil pengembangan tersebut, sejak masa pandemi anak-anak perusahaan di sektor/pilar consumer product telah menerapkan konsep omnichannel untuk meningkatkan layanan jual-beli dan distribusi produk. Yaitu, dengan menyediakan beragam kanal penjualan produk: toko fisik, kanal e-commerce, m-commerce, social commerce, dan sebagainya.

Sementara itu, dalam hal sistem kerja, sejak pandemi, Sintesa telah menerapkan pendekatan flexible work arrangement, yang antara lain memungkinkan karyawan bekerja dari rumah (work from home). Seluruh kegiatan meeting pun telah dialihkan ke platform virtual.

Hasil analisis pasar yang dilakukan tim Transformation Plan Sintesa Group menemukan bahwa setelah terjadi pandemi, ada sejumlah sektor yang justru mengalami peningkatan pertumbuhan usaha, yakni healthcare, renewable energy, logistics, F&B, dan e-commerce.

Dari segi kinerja bisnis, secara keseluruhan kinerja 2021 lebih baik dibandingkan 2020. Terjadi peningkatan revenue dari sekitar Rp 13 triliun pada 2020 menjadi Rp 13,8 triliun, atau meningkat 6%. Hal senada juga terjadi pada net income, yakni meningkat dari sekitar Rp 550 miliar pada 2020 menjadi sekitar Rp 580 miliar, atau naik 5,5%.

Shinta optimistis, dengan kondisi pandemi yang makin membaik, kinerja di tahun 2022 akan lebih baik lagi. “Strategi diversifikasi bisnis yang telah dilakukan juga membuat pilar-pilar bisnis yang ada saling bersinergi,” katanya. (*)

Joko Sugiarsono/Jeihan K. Barlian

 www.swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.