Jakarta:  Genap berusia 19 tahun 10 bulan, Naufal Shafiy Putra Angkasa berhasil mengantongi gelar sarjana teknik. Usaha dan doa adalah kunci yang selalu dipegang hingga dapat menjadi wisudawan termuda di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
 
Wisudawan termuda dari Departemen Teknik Perkapalan ini akan diwisuda sebagai sarjana pada, Sabtu, 24 September 2022.  Menamatkan perkuliahan di usia belia, menjadi keistimewaan tersendiri bagi pria yang karib disapa Shafiy ini.
 
Dilansir dari laman ITS, pilihan studi S1 di Teknik Perkapalan ITS merupakan wujud dari ketertarikannya dalam bidang konstruksi kapal. Selain itu, ia memiliki misi untuk berkontribusi pada kemaritiman Indonesia yang dirasa masih tertinggal dengan negara lain.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut alumnus SMAN 2 Sidoarjo ini, laut Indonesia masih banyak tercemar oleh sampah plastik yang belum bisa diolah. Sehingga merusak ekosistem laut. Hal itulah yang melandasi Shafiy memilih topik Tugas Akhir (TA) berjudul Analisis Teknis dan Ekonomis Metode Penyambungan Plastik Daur Ulang.
 
Pada penelitiannya, Shafiy menggunakan sistem pengeleman dan plastic webbing untuk kulit lambung kapal. Semasa kuliah, Shafiy mengaku tak pernah kesulitan dalam bergaul dan berkomunikasi dengan teman seangkatan.
 
Meskipun terpaut umur yang cukup jauh, dirinya bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik. “Solidaritas teman Teknik Perkapalan yang tinggi sudah diasah saat kaderisasi, umur tidak menjadi batasan bahkan sudah seperti keluarga sendiri,” terang pria asal Sidoarjo tersebut.
 
Menjadi wisudawan termuda, tak jarang Shafiy menemui kerikil kecil di sepanjang jalannya untuk meraih gelar sarjana. Karena umurnya yang masih belia dan sudah berstatus mahasiswa, ketidakstabilan emosi kerap dirasakannya.
 
Hal ini lumrah dialami mengingat umurnya yang masih remaja. Ia bersyukur memiliki keluarga dan teman yang supportif sehingga dapat membantunya melewati rintangan kecil semasa kuliah.
 
Ketika menjadi mahasiswa, Shafiy tak hanya menelan mentah-mentah ilmu yang diberikan dosen. Selepas perkuliahan, ia membaca ulang materi yang diberikan sebagai wawasan baru ke depannya.
 
Tak hanya itu, pria yang tertarik di bidang konstruksi ini juga berkecimpung pada proyek riset Baito Deling. Di sini ia belajar proses pembuatan kapal dengan laminasi bambu.
 
“Biasanya kapal terbuat dari aluminium dan kayu, tetapi saya tertarik bergabung dengan Baito Deling karena membuat kapal dari bambu,” ucapnya.
 
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya harus fokus pada bidang akademik, tetapi juga pengalaman non akademik. Karena itu, wisudawan muda ini juga aktif pada Himpunan Mahasiswa Teknik Perkapalan (HIMATEKPAL), di mana dia menjadi staff divisi pengembangan sumber daya manusia (PSDM) dan tahun berikutnya menjadi kepala divisi PSDM.
 
Shafiy juga merasa perlu membekali diri pada dunia pemasaran. Di tahun ketiganya, ia menjadi digital marketer Baito Deling dan mempelajari project management.
 
Ilmu yang ia dapatkan semasa di Baito Deling membuatnya bersyukur karena dapat berguna untuk jenjang kariernya nanti.  Dia berprinsip bahwa belajar tidak mengenal waktu dan usia. Untuk para juniornya Shafiy juga berpesan, tidak ada istilah berhenti untuk mencari waktu.
 
“Jadilah manusia yang bermanfaat untuk sekitar sehingga memberi dampak positif pada diri kita juga,” tutupnya. 

 

(CEU)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.