Kupang: Flores menjadi salah satu alternatif tujuan wisata alam di Indonesia Timur. Salah satunya adalah Kabupaten Ngada.
 
Dalam mendorong Ngada menjadi sebuah daerah wisata yang inovatif, kreatif, dan inspiratif serta menciptakan ruang ekonomi baru buat masyarakat lokal, Pemerintah Kabupaten Ngada mengelar Wolobobo Ngada Festival (WNF) 2022. Festival dibuka langsung oleh Bupati Ngada bertempat di lapangan Kartini, Sabtu, 17 September.
 
Sebelum acara pembukaan berlangsung, ribuan warga,dari pelajar dan PNS ikut ambil bagian dalam karnaval. Dengan berbusana adat khas Kabupaten Ngada sejumlah pria bersemangat mendendangkan syair-syair adat bertalu-talu sambil menggotong hewan kurban sebagai pembuka Festival Wolobobo di Kabupaten Ngada.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam Suku Bajawa ritual ini dinamakan Bhei Bhodo. Ritual ini sebagai wujud terima kasih terhadap penguasa langit dan bumi atau dewa zeta nitu zale dalam kepercayaan orang Bajawa.
 

Para pria saling sahut menyahut menuntun para peserta karnaval berjumlah 2022 orang yang berjalan sepanjang dua kilometer dari stadion Lebijaga Bajawa menuju lapangan Kartini. Ribuan peserta ini mewakili tiga etnis besar di Kabupatan Ngada yakni etnis ngadhu bhaga, etnis so’a dan etnis riung yang turut memeriahkan festival ini.
 
Sejumlah perempuan tampak anggun berjalan dengan tenunan adat membalut tubuh. Ada yang berwana biru atau indigo dan ada yang berwarna hitam. Tak lupa para perempuan ini menggunakan pengikat kepala atau mari ngia ditambah beragam ornamen diatas kepala.
 
Selain itu tak ketinggalan para pria dari etnis ngadhu bhaga juga dengan gagahnya memamerkan sarung adat yang serba hitam atau lawo dan sarung pelingkar dada yang dinamakan sapu lu’e serta pelindung kepala atau boku.
 
Sedangkan etnis So’a dan Riung agak berbeda dengan kain bercorak kuning yang mendominasi. Penggunakan tenun adat khas Ngada ini juga menjadi tema yang diusung dalam tema Festival Wolobobo kali ini.
 

Ketika sampai di lapangan Kartini ribuan peserta karnaval ini langsung menampilkan beragam atraksi tarian dengan keunikannya masing-masing. Ada tarian adat dengan musik dari irama bambu dan gendang dari etnis So’a. Kemudian ada tarian masal dari ribuan perserta karnaval ini seperti tarian dero dari etnis So’a dan tarian ja’i dari etnis ngadhu bhaga.
 
Semua peserta tampak semangat dalam alunan musik yang terus mengalun panjang. Kaki dan tangan terus mengehentak mengikuti irama musik yang menghentak mengalirkan gairah untuk terus berputar mengelilingi bundaran lapangan Kartini.
 
Tidak hanya orang dewasa ratusan anak sekolah tingkat sma di Kabupaten Ngada juga ikut ambil bagian dalam tarian massal ini. Sejumlah pengunjung tampak berjubel memenuhi pinggir lapangan menyaksikan segala atraksi dan tarian dari para peserta ini.
 
Tidak ketinggalan sejumlah wisatawan asing juga ikut menari bersama sejumlah peserta mengikuti irama musik ja’i dan dero. Tidak hanya para peserta, bupati Ngada dan sejumlah pejabat lain tampak turun ke lapangan ikut menari bersama para peserta.
 

Selain menari terdapat sejumlah atraksi seperti etnis Riung yang menampilkan permainan manuk-manuk atau permainan anak ayam dan elang. Sejumlah stand-stand terbuat dari bambu juga berdiri dalam pembukaan festival wolobobo kali ini.
 
Ada stand yang menampilkan sejumlah kain tenun dengan pewarna alam seperti warna indigo atau biru dengan corak kuda yang menjadi ciri khas kain tenun kabupaten ngada sebagai simbol kekuatan.
 
Ada pula stand yang menampilkan kerajinan bambu serta segala produk-produk dari bambu yang juga menjadi tema utama dalam Festival Wolobobo kali ini. Selain itu ada stand bambu yang menampilkan Kopi Flores Arabika Bajawa sebagai satu unggulan yang telah mendunia hingga ke belahaan benua Eropa dan Amerika.
 
Menurut Bupati Ngada, Andreas Paru, Festival Wolobobo kali ini mengusung 3 tema utama yakni kopi, bambu, dan tenun karena besarnya potensinya dan keunikannya di Ngada. Kopi Flores Arabika Bajawa punya cita rasa berbeda di setiap kecamatan di Ngada, serta sudah menjangkau pasar internasional. Bambu di ngada memiliki potensi besar dengan 96 ribu rumpun bambu dengan 28 juta batang di lahan 42 ribu hektare.
 

“Serat bambu juga menjadi benang tenun buat para ibu untuk menenun sehingga berfungsi ganda sebagai bahan non kayu untuk bangunan dan benang. Keunikan tenun ngada terdapat pada penggunaan pewarna alami dengan tanaman taru dan sepa,” katanya.
 
Ribuan peserta tampak larut dalam alunan musik yang mengalun menghentak sepanjang Festival Wolobobo ini. Sejumlah warga mengaku senang karena bisa menyaksikan berbagai atrkasi dan segala produk baik kopi tenun dan bambu tanpa harus berjalan jauh. Merekapun bisa langsung membelinya ataupun menikmatinya di arena Festival Wolobobo.
 
“Kami berharap festival kali ini juga memberikan pertumbuhan ekonomi buat masyarakat lokal,” ungkap Lius salah satu warga yang hadir menyaksikan Festival Wolobobo.
 
Festival ini juga menjadi sarana promosi wisata Kabupaten Ngada sampai tingkat internasional karena akan menjadi agenda rutin demi mengembalikan target kunjungan wisatawan menjadi 120 ribu wisatawan dalam setahun di Kabupaten Ngada.
 

(MEL)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.