Merdeka.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bercerita, Indonesia pernah melakukan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) hingga menghabiskan anggaran hingga USD2 miliar atau Rp29,54 triliun. Sayangnya langkah ini gagal, membuat Indonesia tak pernah melakukan eksplorasi baru.

“Jadi ini sejak 2012 sampai 2014 dulu ada eksplorasi besar-besaran yang telah menghabiskan lebih dari USD 2 miliar, eksplorasi ternyata tidak berhasil dan sejak itu sudah tidak ada lagi eksplorasi baru,” ungkapnya dalam Konferensi Pers Nota Keuangan RAPBN 2023, Selasa (16/8).

Dia menargetkan, lifting minyak sebesar 680.000 barel minyak per hari (bopd), kemudian lifting gas bumi sebesar 1,050 juta barel per hari. Dari sisi lifting minyak bumi, salah satu upayanya adalah menjaga level produksi yang terjadi serta mengambil langkah untuk meningkatkan produksinya. Mengingat kondisi sumur-sumur minyak yang saat ini sudah berumur tua.

“Antara lain kita sekarang mencoba pengeboran yang lebih besar, lebih banyak lagi. Terbukti bahwa di Rokan (WK Rokan) sudah mulai ada peningkatan dari trennya menurun dan ini sudah mulai meningkat. Untuk jangka panjangnya kita memang harus mengupayakan untuk bisa mengeksplorasi kembali wilayah-wilayah yang masih berpotensi,” tambahnya.

Untuk itu, Kementerian ESDM telah memetakan beberapa potensi lifting minyak dan gas bumi baru untuk dikembangkan, namun dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mengolahnya. “Membutuhkan waktu yang cukup panjang dan kita perlu melakukan perbaikan-perbaikan fiscal term untuk bisa membuat daya investasi di sektor migas ini akan juga meningkat,” ujarnya.

Di sisi lain, dia juga mendorong mulainya produksi di beberapa lapangan lifting, misalnya di Jawa Timur dan Papua. Pada bagian ini, diperlukan penyempurnaan infrastruktur, utamanya infrastruktur lifting gas bumi.

“Sehingga bisa menyambung mulai dari Sumatera sampai ke Jawa Timur. Ini intinya adalah untuk merespons jangka panjang kelebihan gas kelebihan gas di daerah yang surplus, dikirim ke daerah-daerah yang memang sudah menunjukkan penurunan,” terangnya.

Kemudian, ada pula potensi di Sumatera Utara yang diklaim bisa dimanfaatkan untuk 7-10 tahun ke depan. Lalu Blok Mahakam yang kini sedang dilakukan penyelesaian.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Sempat Mangkrak 15 Tahun, Proyek Pipa Gas Cirebon-Semarang Mulai Dibangun
Erick Thohir: Jangan Bandingkan Laba Pertamina dengan Petronas, Kondisinya Berbeda
Siap-Siap, Harga Makanan di Restoran dan Mal Bakal Naik
Pasokan Melimpah, Harga Minyak Mentah Indonesia Anjlok Jadi USD 106 per Barel
Kurangi Beban APBN, Kini Pembangunan Jargas Bisa Skema Investasi Internal
Lebih Hemat dari Gas Melon, Potensi Pembangunan Jargas di Sleman Capai 5.300 SR


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.