Bogor: Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat mengungkap sejumlah faktor pemicu terjadinya stunting pada anak. Di antaranya faktor pernikahan dini dan anak lebih dari dua.
 
“Dari sisi jumlah kasus stunting di Kota Bogor semakin kecil, namun potensinya masih cukup tinggi,” kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat berbincang dengan Medcom.id, Minggu (10/7/2022).
 
Dedi menjelaskan fenomena pernikahan dini yang tergolong tinggi. Pernikahan ini dapat menyebabkan lahirnya anak stunting.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jadi misalnya remaja berusia 17 dan 18 tahun menikah, maka janinnya akan berebutan gizi dengan orang tuanya. Karena orang tuanya masih dalam masa pertumbuhan, dan di saat yang sama janin yang dikandung membutuhkan gizi serta asupan yang memadai,” ungkap Dedie.
 
Menurut Dedie, jika dalam masa kehamilan itu tidak dilakukan upaya maksimal terkait gizi atau asupan untuk ibu dan anak, maka potensi stunting semakin besar. Dedie juga menyebut anak lebih dari dua dalam sebuah keluarga juga menjadi potensi munculnya anak stunting.
 
“Itu juga salah satu potensi stunting bukan hanya anak pernikahan remaja, tapi orang tua yang memiliki anak lebih dari dua,” ujar Dedie.
 
Dedie tidak khawatir jika keluarga tersebut memiliki ekonomi dan lingkungan yang baik. Namun akan berbahaya jika keluarga itu berada di garis kemiskinan.
 
“Anaknya banyak, asupan gizinya kurang, maka itulah yang menjadi potensi stunting,” ujar dia.
 
Dedie menegaskan pihaknya melakukan sejumlah terobosan. Di antaranya memastikan angka putus sekolah sekecil mungkin.
 
Pasalnya ketika anak putus sekolah maka mereka melangsungkan pernikahan dini. Dari pernikahan dini itu, mereka melahirkan anak berpotensi stunting di tengah keterbatasan ekonomi.
 
“Begitu putus sekolah mau ngapain? Keluarga ya udah berpikir kawin saja lah daripada memberatkan. Perkawinan ini menghasilkan persoalan baru,” ungkap Dedie.
 
“Ini lingkaran setan yang harus kita putus. Makanya nomor 1 kebijakan kita, jangan sampai ada anak Kota Bogor yang putus sekolah,” imbuh Dedie.
 
Pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi dan sejumlah terobosan menekan angka stunting. Pihaknya juga siap menyukseskan target Presiden Joko Widodo terkait angka prevalensi stunting di bawah 14 persen pada 2024 mendatang.
 
Istri Dedie Rachim, Yantie Dedie Rachim yang didaulat sebagai Bunda Stunting Kota Bogor menambahkan pihaknya memiliki program bulan penimbangan balita. Pihaknya menjadikan dasar penimbangan tersebut dalam mengindikasikan balita terkena stunting atau tidak.
 
“Makanya Kota Bogor memastikan jumlah stunting diambil dari bulan penimbangan balita. Kalau dari indikator ini, jumlahnya relatif sangat kecil. Kami mengingatkan petugas agar tidak salah ukur,” ungkap Yantie.
 
Yantie berharap Indonesia pada usia emas atau 2045 mendatang diisi generasi yang sehat dan produktif. Oleh karena itu, Yantie dan Pemkot Bogor ikut serta gencar mencegah stunting dengan berbagai upaya ekstra agar generasi di masa tersebut bebas dari stunting.
 
 
 

(DHI)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.