Jakarta: Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) University Sam Herodian menyarankan pengelolaan cadangan pangan pemerintah (CPP) menggunakan konsep stok dinamis dalam jangka panjang.
 
Herodian menjelaskan pengelolaan CPP dengan stok dinamis akan memudahkan Bulog sebagai BUMN yang diamanatkan mengelola pangan untuk menyerap dan mendistribusikan cadangan pangan tanpa harus merugi.
 

Menurut dia, Bulog memiliki fleksibilitas untuk melakukan pengadaan setiap diperlukan. Bulog juga dapat mampu menekan titik kritis terkait biaya atau anggaran CPP, susut bobot dan penurunan kualitas beras.
 
“Disposal setiap tahun menjadi masalah karena menjadi iront stock tidak di apa-apakan,” kata Herodian mengomentari kendala Bulog yang kerap menyimpan stok beras terlalu lama di gudang sehingga menyebabkan turun mutu dan merugi dikutip dari Antara, Rabu, 31 Agustus 2022.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara jika menggunakan konsep stok statis akan berdampak pada biaya logistik dan administrasi yang tinggi. Terjadi pemborosan karena penyimpanan komoditas tertentu sering rusak oleh hama dan menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi pemerintah.
 
Selain itu, penyimpanan membutuhkan banyak gudang dan infrastruktur pendukung. Selain itu juga memerlukan biaya pengangkutan dalam proses pengadaan dari sumber produksi dan penyaluran dari gudang ke konsumen akhir.
 
“Dengan skema fleksibilitas. Pertama, future trading mendorong perdagangan berjangka untuk menjamin ketersediaan pasokan. Kedua, optimalisasi sistem resi gudang yaitu petani dapat menyimpan produk mereka di gudang Bulog terdaftar, dan mendapatkan uang dari bank untuk produk mereka,” katanya.
 
Selain itu, lanjut Herodian, skema untuk membangun kolaborasi berbagai pihak dari hulu sampai hilir dalam ekosistem digital dapat dilakukan dengan menjadikan Bulog sebagai off taker.
 
Namun, Herodian menyebutkan syarat suksesnya pengelolaan pangan stok dinamis harus ada kepastian pengadaan barang dan dana pada saat diperlukan sesuai skenario atau menyesuaikan dengan waktu panen di Indonesia.
 
“Sisi penyimpanan digunakan teknologi terbaik, dengan kemampuan masa simpan sesuai dengan skenario. Sedangkan distribusi cadangan disimpan disesuaikan dengan kebutuhan setiap daerah, dihitung berdasarkan atas kebutuhan rutin dan peluang terjadinya kondisi khusus,” katanya.
 
Mekanisme menyebutkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog telah berhasil mengelola ketersediaan, harga dan distribusi karena dapat menekan angka inflasi. Tahap berikutnya akan dibentuk cadangan jagung dan kedelai maupun komoditi lain untuk tujuan yang sama seperti CBP.
 
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional Rachmi Widiriani mengatakan konsep pengadaan dengan close loop system akan digunakan dalam penyediaan komoditas padi, jagung, dan kedelai (pajale).
 
“Jaminan pengadaan terletak pada harga dan kualitas karena bagian penting upaya memperluas pasar dalam mempermudah penyaluran CPP tersebut,” kata Rachmi.
 
NFA yang membawahi Bulog dapat mengusulkan Kementerian Keuangan untuk menyediakan anggaran diawal untuk pengadaan komoditas pada saat musim panen. Hal itu bertujuan agar pengelolaan lebih mudah dan menjaga harga gabah petani supaya tidak jatuh.
 

(SAW)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.