Jakarta: Pengamat kepolisian Bambang Rukminto setuju dengan pendapat mantan Kabareskrim Polri Komjen (Purn) Susno Duadji terkait hasil autopsi ulang jenazah Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat (J) bisa berbeda 180 derajat dengan hasil pertama. Ada dua kemungkinan yang akan muncul dari hasil autopsi ulang.
 
“Bisa sama seperti autopsi awal, bila autopsi awal benar-benar dilakukan dengan cermat dan profesional. Tetapi, juga bisa sebaliknya bila autopsi awal tidak cermat, dan tidak profesional karena data-data yang diperoleh dari hasil autopsi ulang berbeda 180 derajat dengan data autopsi awal,” kata Bambang kepada Medcom.id, Jumat, 29 Juli 2022.
 
Bambang menyebut prarekonstruksi yang dilakukan Polda Metro Jaya prematur. Sebab, hanya berdasarkan kesaksian-kesaksian dan pencarian motif bukan data, serta bukti-bukti yang ditemukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Padahal kerja penyelidikan polisi profesional itu menemukan bukti-bukti untuk menjadi bahan penyidikan bukan merangkai motif,” ujar Bambang.
 
Menurut dia, motif atau niat jahat saja tanpa ada bukti belum bisa disebut tindakan pidana. Kesaksian-kesaksian tanpa ada bukti, kata dia, rawan bias dan bisa mengaburkan asas praduga tak bersalah.
 
“Untuk membuka tabir kasus ini polisi harus kembali ke awal,  bukan hanya melakukan autopsi ulang yang diminta keluarga korban, tetapi atas nama keadilan dan kebenaran polisi harus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) ulang, tanpa menunggu desakan publik,” ungkap peneliti dari Institute for Security of Strategic Studies (ISESS) itu.
 

Bambang meyakini olah TKP ulang akan memperlihatkan posisi korban, balistik peluru, sidik, bercak darah. Sekaligus bukti-bukti terkait baju, handphone korban, senjata api.
 
“Olah TKP ulang ini penting karena olah TKP awal cacat prosedural. Salah satunya tidak melibatkan saksi eksternal (pengakuan ketua lingkungan/RT di TKP),” tutur dia.
 
Sementara itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) enggan menanggapi kemungkinan hasil autopsi ulang akan berbeda 180 derajat. Pengawas eksternal Kepolisian itu tak mau berandai-andai.
 
“Mohon semua pihak sabar menunggu hasil autopsi yang dilakukan Tim Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) ya. Kita hormati mereka. Mohon bersabar untuk menghormati proses pemeriksaan yang dilakukan Tim PDFI dengan pimpinan Dr. Ade Firmansyah Sugiharto,” kata Komisioner Kompolnas Poengky Indarti saat dikonfirmasi terpisah.
 
Sebelumnya, Susno Duadji menjelaskan hasil forensik kedua akan menjadi kunci pengungkapan kasus kematian Brigadir J. Bahkan, dia menduga alur cerita peristiwa bisa berubah 180 derajat apabila menemukan fakta baru dalam hasil autopsi kedua.
 
“Kalau berbeda dengan hasil yang dilakukan oleh dokter forensik pertama, maka ini akan mengubah jalannya cerita penyidikan menjadi 180 derajat berbalik,” kata Susno, Rabu, 27 Juli 2022.
 
Polisi menyatakan ada baku tembak antara Brigadir J dan Bhayangkara Dua (Bharada) E. Artinya, Brigadir J saat itu masih hidup dan ada perlawanan. Cerita tembak menembak itu, kata Susno, akan diperiksa apakah termasuk bela diri atau tidak.
 
“Tapi kalau dia (Brigadir J) ternyata dianiaya dahulu, ini cerita akan berubah 180 derajat,” ucap Susno.
 

(AZF)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.