Di masa liburan, Ratri pun memberikan jadwal pada sang anak agar tak melulu menatap layar handphone (HP) maupun gadget jenis lainnya. Untuk mengalihkan anak-anak dari gawai, Ratri mulai membiasakan anak-anak bermain di luar, membaca buku kesukaan, dan membantunya mengurus rumah.

“Yang penting enggak main HP melulu,” ujarnya.

Terimbas pandemi

Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga tak luput dari dampak pandemi. Minimnya interaksi langsung membuat anak-anak terutama yang berumur di bawah 7 tahun kesulitan bersosialisasi.

“Mereka baru bisa memahami dengan yang betul-betul bisa dilihat, dipegang, tetapi pandemi membuat anak-anak di rumah saja dan mempersulit kemampuan sosialisasi anak-anak,” kata Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani dalam Virtual Media Workshop Tokopedia: ‘Sambut Hari Keluarga Nasional, Tokopedia Bagikan Tren Jual-Beli Online Produk Kebutuhan Ibu dan Anak serta Rumah Tangga’, Rabu (28/6).

Anak di bawah usia tujuh tahun, tambahnya, tidak mungkin langsung bisa bergaul. Nina–demikian ia akrab disapa, menyebutkan setidaknya ada enam tahapan anak untuk belajar sosialisasi.

Tahapan anak bersosialisasi
Usia Tahapan bersosialisasi
Mengamati orang lain
2 tahun Solitary play, bermain sendiri, fokus pada mainan
3 tahun Onlooker play, menonton orang lain bermain
3,5 tahun Parallel play, bermain bersama tapi tidak berinteraksi
4 tahun Associative play, mulai ada interaksi dengan teman
>5 tahun Cooperative play, bermain bersama dengan aturan tertentu

“Usia 6 tahun pertama, karena keterampilan sosialisasi bertahap jadi perlu distimulasi sejak dini, keluarga punya peran sangat besar untuk membuat anak terampil bersosialisasi,” sebut Nina.

Sayangnya, sosialisasi terganjal banyak rintangan pada saat pandemi. Anak-anak belajar di rumah membuat tidak punya pengalaman berinteraksi secara langsung. Belum lagi, protokol kesehatan membuat permainan dengan sentuhan tidak bisa dijalankan.

“Anak juga lebih banyak bermain gadget. Ini salah satu alat utama yang bisa dipakai saat pandemi, asyik sendiri, membuat anak sulit dilepas dari gadget untuk berinteraksi secara langsung,” beber Nina.

Mencegah anak merasa bosan saat liburan

Manfaatkan teknologi

Namun demikian, teknologi juga memiliki dua sisi koin. Teknologi, dalam hal ini gadget dan aplikasi bisa menjadi ajang sosialisasi untuk anak. Jika pada masa sekolah, teknologi menjadi sarana utama pembelajaran, maka saat liburan teknologi bisa mendukung pembelajaran keterampilan.

‘’Bersahabatlah dengan teknologi,” sarannya.

Nina mencontohkan, anak bisa melakukan kegiatan belajar keterampilan secara virtual, sekadar menyapa teman sebaya dan keluarga melalui ponsel, atau mendokumentasikan kegiatan-kegiatan anak dengan gadget. ‘’Kalau anak sedang enggak nyaman, bisa lihat foto dan memunculkan rasa senang kembali pada dirinya,” tambah dia.

Nina menambahkan, pada masa liburan anak-anak bisa dibebaskan dari rutinitas belajar. Menurutnya, orang tua tidak perlu mempersiapkan pembelajaran di masa liburan atau malah menyuruh anak belajar.

‘’Anak-anak punya hak melakukan hal berbeda yang mungkin saat sekolah enggak bisa dilakukan. Dengan memenuhi kebutuhan liburannya, justru dia akan sudah siap sekali untuk kembali ke sekolah,” tambah dia.

Selain itu, orang tua perlu bermain dan terlibat bersama anak untuk mengakrabkan keluarga. Misalnya, jika orang tua WFH pilihlah waktu di pagi atau sore hari untuk bermain bersama anak terutama yang berusia di bawah 7 tahun.

Penting juga bagi pasangan suami istri meminimalisir konflik agar terlihat kompak di depan anak. “Kerja sama antar orang tua adalah bentuk sosialisasi pertama yang dilihat anak,” sebutnya.

Orang tua, kata Nina, juga bisa menerapkan role play atau bermain peran dengan sederhana. Contohnya, menjadi penjual dan pembeli, bermain drama konflik dan lain-lain yang bisa mengajarkan anak kemampuan bersosialisasi. Bisa pula dengan membuat playdate dengan teman sebaya dan memberdayakan kehadiran keluarga besar.

Untuk mengurangi rasa jenuh pada anak di masa liburan, Nina menyarankan orang tua menerapkan hal baru pada anak atau melonggarkan aturan. ”Daftarkan anak ke klub seni atau olahraga pada musim liburan, anak dapat keterampilan baru dan kurangi rasa jenuh, jangan lupa abadikan dalam foto dan video,” bebernya.

Dokumentasi Tokopedia.

Ekosistem untuk orang tua

Berbagi ilmu soal parenting memang sangat dibutuhkan setiap orang tua. Untuk itu, marketplace Tokopedia menciptakan Tokopedia Parents. Tidak hanya menyediakan segala kebutuhan terkait ibu dan anak serta kebutuhan rumah tangga, fitur ini menjadi ekosistem tersendiri bagi para orang tua.

Head of Category Development Tokopedia Ramadhan Niendraputra menyatakan bahwa Tokopedia tidak hanya menyasar orang tua sebagai target pasar semata namun juga strategic partner. ‘’Kami ingin menemani setiap stage para orang tua dalam tumbuh kembang anak,” kata dia dalam kesempatan yang sama.
 
Dia menambahkan para orang tua dapat memperoleh wawasan dan saling berbagi informasi melalui webinar atau talkshow seputar anak dan keluarga yang melibatkan para ahli lewat Tokopedia Parents. “Topik yang dibahas mulai dari bakat anak, sekolah, investasi, manajemen finansial dan masih banyak lainnya,” tambahnya.

Tokopedia Parents sendiri sudah hadir sejak sebelum pandemi, baik di laman marketplace maupun melalui media sosial. Bahkan, Tokopedia Parents juga memiliki WhatsApp grup yang berisi lebih dari 50.000 anggota. Segmennya terbagi berdasarkan usia anak, maupun segmen bapak serta ibu.

“Kami banyak sekali kegiatan-kegiatan yang memperkenalkan ke market, promo-promo menarik setiap hari, talkshow dengan narsum topik parenting, dan kami undang seller-seller UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah),” ujarnya. 

Dokumentasi Tokopedia.

Lebih lanjut, Ramadhan menyebutkan kategori ibu dan anak serta rumah tangga merupakan kategori terlaris di kuartal-II 2022. Produk ibu dan anak seperti botol susu dan dot, mainan edukasi dan musikal bayi, alat makan bayi, sikat gigi dan pasta gigi bayi, mainan luar ruangan bayi mengalami penjualan signifikan.

“Kategori ini tumbuh secara pesat,” ujarnya.

Selain itu di kategori rumah tangga, produk seperti benih bibit tanaman, toples makanan, keran air, pupuk, sprei dan bed cover juga banyak dicari. “Toples terlihat meningkat saat Ramadan. Keran air dan material bangunan yang meningkat di Maret dan April menandakan banyak yang memperbaiki rumah menyambut Lebaran. Orang-orang tampaknya optimistis sambut post pandemi,” imbuhnya.

Marketplace besutan William Tanuwijaya ini juga mencatat inisiatif Hyperlocal berlangsung cukup baik. Hal ini ditandai dengan peningkatan penjual dan pembeli di kota-kota tier 3 yang sejalan dengan program Hyperlocal yang mendekatkan penjual dengan pembeli.

Tercatat, penjual kategori rumah tangga yang meningkat di kuartal II-2022 berasal dari 
Yogyakarta, Denpasar, Brebes, Pekanbaru, dan Surakarta. Sementara untuk kategori ibu dan anak berasal dari kota Tangerang, Payakumbuh, Langkat, Minahasa, dan Ogan Komering Ulu.

Adapun berdasarkan peningkatan jumlah pembeli di kuartal II-2022 untuk kategori rumah tangga adalah kota Pariaman, Bukit Tinggi, Rote Ndao, Konawe Kepulauan, Maybrat. Kemudian kategori ibu dan anak adalah kota Rote Ndao, Sumba Tengah, Biak Numfor, Pegunungan Bintang, dan Sabu Raijua.
 

Ilustrasi Alinea.id/M.T. Fadillah.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.