SURYA.CO.ID, PASURUAN – Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangil Kabupaten Pasuruan, Ramdhanu Dwiyantoro membakar semangat mahasiswa-mahasiswi Universitas Kadiri Kota Kediri melalui bukunya berjudul “RamRam : Membongkar skandal korupsi di Bumi Santri”.

Buku yang disusun dan ditulis kajari itu memang menjadi referensi mengenai proses pengungkapan kasus korupsi di Pasuruan. Dengan judul yang kontras antara ‘korupsi’ dan ‘bumi santri’, kajari seperti ingin menekankan bahwa praktik korupsi bisa terjadi di mana saja saat ada kesempatan.

Pengalaman Kejari Bangil membongkar tiga kasus megakorupsi di Pasuruan disampaikannya secara gamblang dalam acara bedah buku itu, Kamis (18/8/2022). Ramdhanu menyampaikan pengalamannya mengurai benang kusut skandal kasus korupsi di Kabupaten Pasuruan dengan segala tantangan.

Ramdhanu menyampaikan terima kasih karena sudah mendapatkan kesempatan ini. Ia berharap, semoga apa yang ada dalam buku ini bisa bermanfaat untuk mahasiswa dan mahasiswi Universitas Kadiri dan pembaca secara umum terkait pentingnya pengungkapan kasus korupsi.

Ia menyebut, buku ini sebagai interpretasi pesan pimpinan bahwa insan kejaksaan di daerah harus membesarkan institusi dengan sebenar-benarnya. Kejaksaan harus dibawa sebaik baiknya di mata Tuhan dan masyarakat dengan kontribusinya dalam pemberantasan korupsi dan menyelamatkan uang negara.

“Buku ini menyampaikan pesan bahwa insan Adhyaksa bisa melakukan penegakan hukum yang baik tanpa menimbulkan konflik, kegaduhan di kemudian hari. Dan bisa mendapatkan apresiasi dan aspirasi yang baik,” tambah Ramdhanu, atau yang akrab disapa Ram-Ram ini.

Menurut Ramdhanu, awal masuk Pasuruan ia melakukan tracking dan tracing terhadap kasus-kasus yang belum terselesaikan. Menurutnya, tiga kasus besar yang dibongkar itu memiliki Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan (ATHG) tersendiri.

“Unsur menyalahgunakan kewenangan dalam tindak pidana korupsi merupakan spesies delict dari unsur melawan hukum sebagai genus delict akan selalu berkaitan dengan pejabat publik. Tiga kasus besar itu memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri dalam penyelesaiannya,” tambah Ramdhanu.

Karena itu ia mengajak para mahasiswa untuk ikut perang terhadap korupsi dengan dimulai dari dirinya sendiri. Ia berharap, buku ini bisa memberi sedikit sumbangsih terhadap pandangan dalam penegakan hukum.

“Setiap norma hukum haruslah menghasilkan antara nilai kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan bagi masyarakat,” tutupnya. ****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.