“Cukup mengetahui apa itu mangrove, manfaatnya, dan membeli produk yang terbuat dari tanaman ini, akan mendukung upaya konservasi mereka,” kata Efendi mengutip berita dari jurnalis lepas Ainur Rohmah yang diterbitkan IJNet.org, Jumat (15/7).

Mengubah perspektif

Kisah Hani Ristiawan, misalnya, menceritakan pengalamannya menjelajahi hutan mangrove purba di Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut, Jawa Barat. Ia menemukan hutan bakau yang masih belum terjamah, menampilkan ekosistem flora dan fauna endemik yang menakjubkan.

Ada juga cerita dari Sari Poncowati tentang pengalamannya mengunjungi Mangunharjo, sebuah desa di pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah. Dalam beberapa dekade terakhir, kawasan ini mengalami kerusakan hutan mangrove secara besar-besaran akibat alih fungsi lahan. Kini penanaman mangrove digalakkan di kawasan ini seiring dengan abrasi yang semakin parah.

Kerusakan mangrove di Indonesia terus terjadi seiring dengan pembangunan pesisir yang masif, menurut Priyono. Hal ini disertai dengan kurangnya informasi dan komunikasi mengenai pentingnya mangrove. “Jadi kesadaran masyarakat untuk melestarikan mangrove masih kurang,” kata Priyono yang juga editor di MangroveMagz. “Itulah sebabnya MangroveMagz mencoba mengisi kesenjangan informasi ini.”

Sri Weni, seorang pembaca MangroveMagz, mengatakan bahwa gerai tersebut telah berkontribusi untuk memperluas pengetahuannya tentang mangrove dan manfaatnya. “Saya sekarang tahu seberapa parah kerusakan mangrove dan kontribusi apa yang harus saya berikan untuk melestarikannya,” kata Weni, yang merupakan guru sekolah menengah pertama.

Weni mengatakan banyak kerusakan yang terjadi pada mangrove karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang ekosistem ini. “Saya yakin jika masyarakat mengetahui manfaat mangrove, tidak akan mudah merusaknya,” ujarnya.

Menyasar anak muda

MangroveMagz juga menjalankan beberapa program berbasis pemberdayaan masyarakat, termasuk pelatihan jurnalistik. Kegiatan tersebut dapat berupa penanaman mangrove, lokakarya pemberdayaan masyarakat, penelitian, kampanye, dan dokumentasi tentang mangrove. “MangroveMagz memberikan informasi dan kegiatan yang dilakukan oleh jaringan komunitas kami di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional,” kata Efendi.

Salah satu penyebab penebangan mangrove di Indonesia ialah minimnya kurikulum pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan pesisir, kata Efendi. Hasilnya, MangroveMagz membuat konten untuk anak-anak termasuk dongeng dan kartun. Untuk menarik perhatian pembaca muda, Efendi dan timnya juga membuat podcast, menyiarkan web series, mengembangkan channel YouTube dan menyelenggarakan acara relawan tahunan.

“Pemuda adalah agen terpenting dalam keberhasilan atau kegagalan upaya pelestarian hutan mangrove. Mereka harus diberikan pemahaman tentang mangrove dan isu-isu yang mengelilinginya. Agar di masa depan, mereka tidak menjadi generasi perusak, tetapi generasi muda. generasi yang peduli terhadap kelestarian lingkungan,” kata Efendi.

Gaya hidup melestarikan mangrove

Kedepannya, MangroveMagz bertujuan untuk menjadi pusat informasi tentang mangrove, tidak hanya mempublikasikan karya para kontributornya tetapi juga karya-karya dari masyarakat luas. “Kami kira konservasi mangrove tidak hanya bisa dilakukan oleh masyarakat pesisir, tetapi juga masyarakat luas. Semua saling terkait dan harus saling membantu dalam kampanye ini,” kata Efendi.

Masyarakat harus cepat tanggap terhadap ancaman aktivitas manusia dan krisis iklim terhadap lingkungan, desak Efendi. Baginya, mengkampanyekan konservasi mangrove merupakan salah satu upaya untuk mencegah kerusakan yang masif. “Kami ingin upaya pelestarian mangrove menjadi gaya hidup, artinya topik seputar mangrove menjadi perbincangan sehari-hari dan upaya melestarikannya menjadi kebiasaan,” ujarnya.(ijnet)


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.