Merdeka.com – Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Dudung Abdurachman bertemu Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Jenderal James C McConville di Pentagon, Amerika Serikat, Senin lalu. Dudung mengharapkan latihan bersama dengan Angkatan Darat Amerika Serikat bersandi ‘Garuda Shield’ pada Agustus 2022 tidak hanya meningkatkan kemampuan prajurit, tetapi juga dapat membangun komunikasi antarprajurit setiap negara peserta, khususnya Amerika Serikat dan Indonesia.

“Kerja sama dalam latihan ‘Garuda Shield’ di tingkat taktis dan teknis nanti, harus semakin mewujudkan komunikasi dan koordinasi yang sangat baik antara kedua Angkatan Darat kita,” kata Dudung. Dikutip dari Antara.

Dalam kunjungan kehormatan di Pentagon, Arlington Virginia, Amerika Serikat, dia disambut hangat McConville. Sambutan hangat McConville menunjukkan hubungan bilateral antara TNI AD dan Angkatan Darat Amerika Serikat berjalan semakin baik.

Terkait hal tersebut, pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menyambut positif pertemuan Dudung dengan McConville. Sebab pertemuan yang membicarakan latihan bersama ‘Garuda Shield’ pada Agustus 2022 itu untuk meningkatkan kemampuan tempur prajurit dua negara.

“Tiap latihan bersama atau sendiri pasti akan meningkatkan efektifitas kemampuan tempur prajurit. Karena di situ ada pengalaman dan evaluasi, hasilnya adalah sebuah pemahaman baru yang menjadi pelajaran penting. Efektivitas akan terbangun,” ujar Connie kepada wartawan, Jumat (15/7).

Menurut Connie, sebenarnya ‘Garuda Shield’ ini sudah dimulai sejak tahun 2009 sebagai latihan bersama rutin Indonesia dan AS serta diikuti beberapa negara. Pada 2009 misalnya, dilaksanakan di Bandung yang melibatkan Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Jepang, China, Malaysia, Inggris, Jerman dan Thailand.

Tahun lalu, Connie menjelaskan bahwa latihan bersama (latma) ke-15 berlangsung di bawah kepemimpinan Jenderal Andhika Perkasa sebagai Kasad, yang diklaim sebagai latihan bersama terbesar dan digelar di tiga tempat berbeda Baturaja, Amborawang Kalimantan dekat zona IKN dan di Makasilung Manado.

“Saat itu saya bersuara cukup keras karena menurut saya tersebarnya latihan di area tersebat apakah berlaku resiprokal (berbalasan), kita bisa latihan di AS dan TNI dapatkah juga mendekati area Washington? Keunggulan latihan bersama ke-15 ini adalah airborne lintas negara yang belum terjadi sebelumnya. Tahun ini latihan bersama disebut-sebut akan bersifat lebih besar dari 2021 dan dinamai sebagai Supra Garuda Shield dan akan dilaksanakan di Natuna,” jelas Connie.

Connie menambahkan, Dudung perlu meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan juga DPR Komisi I DPR, karena patut diingat isu panas geopolitik LCS yang akan berpengaruh besar pada hubungan Indonesia dengan negara kawasan, karena dapat terbaca Indonesia seolah menjadi bagian dari AS dan aliansinya dengan memilih latihan bersama di Natuna.

“Sudah diperhitungkan kah oleh KSAD semua bentuk spill over geopolitik issue dan keseimbangan kawasan dari latma terbesar di Natuna ini?” tanya Connie.

Connie berharap Dudung juga mengadakan latihan perang dengan beberapa negara strategis lainnya, negara yang berbeda doktrin tempurnya. Negara yang maksud Connie adalah latihan bersama dengan China atau Rusia.

“Ini bukan saja menambah kekayaan pengetahuan dan meningkatkan skill serta efektivitas, namun juga menunjukkan politik luar negeri dari negara kita adalah pemimpin NAM yang konsisten dan konsekuen,” pungkas Connie.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Organisasi Rekonsiliasi Masyarakat (Rekat) Indonesia Raya, Eka Gumilar. Menurutnya, apa yang dilakukan Dudung dalam meningkatkan keamanan dan pertahanan Indonesia menunjukkan jiwa nasionalis jenderal bintang empat tersebut.

“Pak Dudung sangat memperhatikan Prajurit, bukan hanya kesejahteraan tapi juga peningkatan kemampuan keterampilan, demi keamanan negara, ini patut kita apresiasi,” katanya.

Sebelumnya, dalam pertemuan Dudung dengan McConville, kedua pimpinan Angkatan Darat sepakat meningkatkan kerja sama dalam menghadapi perkembangan situasi yang dinamis di kawasan Indo Pasifik.

Dalam kunjungan kerja itu, Dudung didampingi asisten intelijen, asisten latihan dan asisten teritorial, diterima langsung McConville di ruang kerjanya bersama dengan staf Kerja Sama Militer Angkatan Darat Amerika Serikat, Ronald Stafford.

McConville juga mengapresiasi kerja sama di bidang pendidikan yang dilaksanakan kedua Angkatan Bersenjata.

[cob]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.