Jakarta: Kesehatan kulit dan perawatan yang tepat sesuai jenis kulit merupakan suatu hal
yang penting namun sering terabaikan. Saat ini, 60-70 persen wanita dan 50-60 persen pria di dunia mengalami kondisi kulit sensitif dengan berbagai derajat dan penyakit yang menyertainya, berdasarkan data Frontier in Medicine (2019). 

Oleh karena itu, sebagai brand perawatan kulit yang telah teruji secara dermatologik, Cetaphil mengajak masyarakat untuk lebih mengenal kondisi dan jenis kulit melalui kampanye ‘Sensitive Skin Awareness.’ Cetaphil berharap agar lebih banyak masyarakat yang sadar akan tanda kulit sensitif dan paham jenis perawatan yang diperlukan.

Sunarko, HCP Channel Activation Manager Galderma Indonesia, mengatakan faktor ketidakpahaman masyarakat terhadap tanda kulit sensitif menjadi salah satu penyebab sering terabaikannya perawatan untuk kondisi kulit seperti ini. Selain itu, kurang pahamnya masyakarat mengenai hubungan dermatitis atopik dan kulit sensitif kerap menjadi kendala saat penanganannya. 

“Dermatitis atopik kerap terjadi pada bayi, anak-anak hingga orang dewasa, dan ditandai dengan adanya peradangan pada kulit yaitu kulit yang memerah, timbul ruam, kering dan pecah-pecah. Penyakit kulit ini bersifat kronis, dapat hilang dan timbul jika terpapar oleh faktor pemicu. Namun, hingga saat ini, belum banyak masyarakat yang mengetahui keterkaitan antara kulit sensitif dan dermatitis atopik,” jelasnya. 

Ini Bedanya Dermatitis Atopik dengan Kulit Sensitif

(Forum diskusi virtual Kampanye ‘Sensitive Skin Awareness’ Cetaphil dan KSDAI. Foto: Dok. Istimewa)

Lebih lanjut, Sunarko mengatakan bahwa tenaga kesehatan perlu diingatkan kembali akan kondisi ini. “Oleh karena itu, sebagai salah satu kegiatan dalam kampanye Sensitive Skin Awareness, Cetaphil menggandeng Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) untuk memfasilitasi forum diskusi di antara para dokter spesialis terkait, seperti dokter spesialis kulit dan kelamin hingga dokter spesialis anak, yang terus dilakukan secara berkala guna merumuskan manajemen perawatan yang tepat bagi pasien penyakit kulit sensitif tersebut,” ungkap Sunarko. 

Sementara, dr. Srie Prihianti, SpKK(K), PhD, FINSDV, FAADV, Ketua Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) mengatakan masyarakat masih memiliki pengertian yang berbeda-beda tentang apa itu kulit sensitif, padahal keseragaman pemahaman itu diperlukan. 

“Selain itu, tenaga dokter dan dokter spesialis juga penting untuk mengenali jenis kulit sensitif, tanda-tanda yang ditimbulkan, mekanisme yang mendasari, serta hubungan kulit sensitif dengan penyakit eksim atopik.Setelah memahami hal-hal tersebut, baru kita dapat melakukan perawatan yang tepat dengan produk yang sesuai. Kami mengapresiasi dukungan Cetaphil untuk memfasilitasi forum diskusi ilmiah bagi para tenaga kesehatan, serta inisiatifnya untuk mengedukasi masyarakat agar lebih paham akan tanda kulit sensitif,” ujar dr. Srie.



(Rutin menggunakan pelembap bisa menjadi cara untuk menjaga kesehatan skin barrier. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)

 

Dermatitis atopik vs kulit sensitif

Dalam forum diskusi yang sama Dr. Margaretha Indah Maharani, Sp.KK, FINSDV, FAADV menjelaskan bahwa pasien dengan kondisi kulit sensitif dan dermatitis atopik sering datang dengan berbagai keluhan dan gejala. Biasanya keluhan yang paling sering ditemukan adalah gatal disertai kulit kering, bersisik, dan kemerahan. 

Namun pada kulit sensitif, keluhan dapat berupa rasa panas, seperti terbakar, dan menyengat walau penampakan kulit tampak normal. “Kulit sensitif dan penyakit kulit dermatitis atopik memiliki hubungan yang erat, dimana pasien dermatitis atopik mengeluhkan memiliki kulit yang sensitif. Dalam kondisi ini, sangat penting menjaga kesehatan kulit agar sawar kulit (skin barrier) berperan dengan baik sebagai proteksi,” tutup dr. Margaretha. 
(yyy)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.