Merdeka.com – Menteri Sosial Tri Rismaharini menolak disalahkan atas kenaikan harga telur ayam. Terlebih Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyebut kenaikan harga telur ayam disebabkan salah satunya oleh program bantuan sosial milik Kementerian Sosial.

“Jadi dulu harga telur jatuh kami yang salah karena kami enggak membeli. Saya sampai didemo oleh peternak. Kalau naik, kami disalahkan karena membeli katanya, ya kan. Tapi bukan itu jawabannya. Kami enggak ada program memberikan bantuan dalam bentuk natura, baik itu beras, telur dan apapun, enggak ada,” kata Risma di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bogor, Kamis (25/8).

Dia memastikan, dalam program bantuan sosial, Kementerian Sosial memberikan dalam bentuk uang tunai, yang dititipkan ke bank maupun Kantor Pos. Nantinya masyarakat dengan bebas memilih untuk dibelanjakan apa saja bantuan yang diberikan.

“Kami memberikan lewat bank. Masa bank mau ngasih beras. Kami kasih uang ke bank. Nah di masyarakat, terserah. Tapi yang jelas untuk kebutuhan nutrisi, kebutuhan hidup. Mereka boleh pilih, kami tidak memaksanya telur. Boleh ikan, daging, telur. Jadi kalau (harga telur) naik, kami enggak tahu,” beber Risma.

Sebelumnya, Mendag Zulkifli membeberkan penyebab mahalnya harga telur ayam di pasaran saat ini. Salah satu penyebabnya yaitu tindakan afkir dini atau upaya mengurangi produksi indukan yang dilakukan peternak. Selain itu, ada program bantuan sosial (bansos) yang memengaruhi stok di pedagang sehingga harga telur ayam ras terus naik.

Berdasarkan pantauan situs resmi Kementerian Perdagangan, tercatat per 24 Agustus 2022 harga telur ayam ras di tingkat eceran mencapai Rp31.000 per kilogram atau naik sekitar 2,9 persen dibandingkan seminggu sebelumnya dan naik sekitar 6,1 persen dibandingkan sebulan sebelumnya.

“Kemensos kebetulan merapel programnya tiga bulan sekaligus. Telur lagi dibeli. Jadi satu afkir dini, kedua Kemensos bantuan tiga bulan dirapel. Bantuan telurnya banyak, jadi (harga) naik,” kata Mendag Zulkifli saat ditemui di kawasan Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (24/8).

Zulkifli menjelaskan bahwa afkir dini dilakukan karena sebelumnya harga telur kian turun menjadi Rp25.000 sampai Rp26.000 per kilogram.

Karena harganya yang terlalu rendah, peternak memutuskan melakukan afkir dini dengan memotong ayam petelur guna mengurangi produksi indukan agar tidak bertelur dan menjadi bibit ayam.

Di saat yang sama, Mendag menilai distribusi telur dalam skala besar untuk program bantuan sosial (bansos) menyebabkan permintaan telur ayam meningkat di pasaran dan berdampak pada kenaikan harga.

[cob]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.