Dharma Polimetal Optimistis Prospek Industri Otomotif Masih Cerah
Presiden Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso.

PT Dharma Polimetal Tbk meyakini bahwa industri otomotif masih memiliki prospek yang cerah di tahun 2022. Presiden Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso mengatakan, kepadatan mobil di Indonesia adalah 77 mobil per 1.000 penduduk, lebih rendah dari negara tetangga Thailand yang kepadatannya adalah 281 mobil per 1.000 penduduk, dan Malaysia yang memiliki 433 mobil per 1.000 penduduk.

Menurutnya, jika kepadatan mobil di Indonesia dapat mencapai Thailand, maka pasar otomotif roda empat di Indonesia akan bertumbuh hampir 4 kali lipat dari nilai yang tercatat sekarang.

“Jika kita lihat saat ini banyak yang berlomba menjadikan Indonesia sebagai production based, baik untuk market domestik maupun ekspor. Jadi tahun ini seharusnya jauh lebih baik,” uja Irianto dalam konferensi pers secara virtual (27/07/2022).

Apalagi kata dia, pemerintah sangat mendukung industri otomotif dengan adanya pembebasan PPnBM. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah seperti jalan tol Trans-Jawa, Trans-Sumatra, Trans-Kalimantan, Trans-Sulawesi, dan Trans-Papua, perkembangan otomotif roda empat diyakini akan meningkat pada masa mendatang.

Irianto mengungkapkan, perseroan mempunyai roadmap yang jelas untuk mendorong pertumbuhan terus berlanjut. Perseroan mengutamakan pengembangan dan penguatan kemampuan Research & Development (R&D) dan engineering agar dapat terus berada di posisi terdepan di dalam persaingan di industri ini.

Perseroan juga akan berfokus pada peningkatan kapasitas produksi produk komponen otomotif roda empat seiring dengan prospek rata-rata pertumbuhan produk yang terus meningkat dengan bertumbuhnya PDB di masa yang akan datang. Selain itu, juga telah merambah pada produk-produk yang dijual langsung ke masyarakat seperti kendaraan roda tiga dan sepeda.

Di masa yang akan datang, Dharma Polimetal juga akan mencoba melakukan penetrasi pada pasar-pasar baru yang prospektif seperti pengembangan produk komponen otomotif berbasis Electric Vehicle (EV). Irianto menyebut, hal ini merupakan investasi di bidang R&D dan engineering untuk pertumbuhan usaha di masa depan. “Kami mempersiapkan diri untuk menghadapi era dari EV sehingga kami sangat memperdalan di area tersebut, mulai dari engineering dan lainnya,” kata dia.

Persiapan tersebut di antaranya meningkatkan kemampuan dan kompetensi di dalam pengolahan material-material yang akan digunakan oleh EV (dengan karakteristik yang lebih ringan namun memiliki kekuatan yang sama atau lebih), seperti high atau ultra high tensile strength steel, plastik, aluminium, dan lainnya.

Kemudian mempersiapkan kompetensi dalam hal pembuatan battery pack, battery management system dan battery charging system; meningkatkan kemampuan untuk memproduksi wiring harness system untuk EV; serta mengembangkan kendaraan roda tiga yang berbasis elektrik dan sepeda yang berbasis elektrik.

“Salah satu yang menjadi kekuatan kami adalah hampir 100% dari Special Purpose Machine yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk, kami buat in-house. Itu yang membedakan kami dengan yang lain sehingga secara investasi akan lebih murah dan akan jauh lebih cepat karena kami bisa kontrol dan buat sendiri. Kompetensinya pun ada,” jelas Irianto.

“Boleh dikatakan kami siap membantu untuk memproduksi EV di Indonesia, karena pada prinsipnya kami sebagai manufacturing company maunya jangan semuanya impor dari luar. Kalau bisa dilokalisasi kenapa tidak,” lanjutnya.

Sementara itu, pada 2021 Dharma Polimetal mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 55,40% dari Rp1,87 triliun di tahun 2020 menjadi Rp2,91 triliun di tahun 2021. Laba neto emiten kode DRMA ini mengalami peningkatan sebesar 3.743,79% dari Rp7,95 miliar di tahun 2020 meningkat ke Rp305,38 miliar di tahun 2021. Peningkatan laba tersebut disebabkan oleh kenaikan penjualan dan efisiensi di tengah harga komoditas yang meningkat.

Dari sisi posisi keuangan, telah berhasil melaksanakan Initial Public Offering (IPO) di akhir tahun 2021. Pada 2021 total ekuitas mencapai Rp549,92 miliar atau 103,33% dari Rp532,20 miliar tahun 2020 menjadi Rp1,08 triliun pada 2021.

“Tahun ini kami tetap memikirkan bagaimana efisiensi dan produktivitas terus meningkat. Ukurannya tentu dari profitability. Apapun yang kami lakukan akan tercermin dari laporan keuangan. Kemudian, selain membuat produk, kami juga selalu berusaha membuat tooling sendiri sehingga kami bisa memperkaya kemampuan di dalam tooling. Jangan sampai tooling atau Special Purpose Machine selalu impor. Itu yang membuat performa kami selalu ada perbaikan setiap tahunnya,” tutur Irianto.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.