Cara Baznas Mengoptimasi Pengumpulan Zakat di Era Penuh Perubahan

Sebagai lembaga pemerintah non-struktural, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menjalankan tugas menghimpun dan menyalurkan dana Zakat, Infak, Sedekah (ZIS), dan dana sosial keagamaan lainnya, serta mengordinasikan pengelolaan ZIS dari seluruh Badan Amil Zakat dan Lembaga Amil Zakat se-Indonesia.

Menurut data Baznas, total potensi zakat nasional saat ini ditaksir sekitar Rp327,6 triliun, yang berasal dari perorangan dan badan/perusahaan. Rizaludin Kurniawan, Pimpinan Baznas RI Bidang Pengumpulan Zakat mengatakan, pengumpulan oleh Baznas sampai tahun 2021 tercatat mencapai Rp14 triliun.

“Kami menyadari walaupun diperkuat oleh regulasi tetapi hal itu tidak cukup untuk memenangkan hati para klien yakni para calon muzaki dan mustahiq,” ujar Rizaludin dalam Webinar & Conference Indonesia Sales & Customer Experience Champions Conference 2022 yang diselenggarakan SWA.

Maka untuk lebih mengoptimalkan potensi tersebut, Rizaludin menyatakan, Baznas menjalankan sejumlah upaya yang menyesuaikan dengan era saat ini yang penuh dengan perubahan cepat.

Menurutnya, ekosistem ini masih perlu ditopang dengan edukasi, bahwa literasi tentang ZIS masih sangat kurang. Maka pihaknya memberikan edukasi terkait keuntungan dan manfaat yang bisa didapatkan baik individu maupun perusahaan jika menunaikan ZIS.

“Padahal zakat ini sangat menguntungkan baik bagi individu maupun korporasi. Maka pada konteks ini kami melakukan penguatan literasi baik ke individu dan perusahaan,” tuturnya.

Selanjutnya, Baznas melakukan proses digitalisasi pengumpulan. Salah satu terobosannya adalah Digital Fundraising. Suatu layanan ZIS secara online yang menggunakan integrasi sistem untuk otomatisasi layanan.

Baznas mengembangkan konsep multiplatform zakat digital yang terdiri dari platform internal Baznas dan platform kolaborasi bersama mitra aplikasi. Baznas telah bermitra dengan lebih dari 100 mitra digital dalam memberikan layanan pembayaran ZIS. Rizaludin menyebut, hal ini sebagai bagian dari upaya untuk merebut hati masyarakat agar membayar zakat menjadi gaya hidup.

Di noncommercial paltform, lanjutnya, Baznas juga berjejaring dengan banyak crowdfunding. Pihaknya juga bekerja sama dengan pembayaran melalui QRIS dan layanan teknologi lainnya.

“Kami menyadari bahwa keberhasilan marketing dan sales adalah tergantung pada sebanyak-banyaknya pemanfaatan media database, komunikasi, layanan, dan kanal digital,” ujarnya.

Pada prinsipnya, kata dia, Baznas melakukan proses integrated marketing. Artinya, seluruh hub komunikasi yang dibangun bisa terintegrasi dengan capaian layanan muzaki pada donor experience sehingga muzaki bisa mendapatkan pengalaman yang baik. “dan kami bisa melayani pada layanan yang sama dengan respons cepat,” jelasnya.

Rizaludin menyatakan, Digital fundraising yang berjalan sejak 2016 ini terus mengalami kenaikan signifikan. “Alhamdulillah penghimpunan melalui digital ini terus meningkat, dari awal Rp4,9 miliar hingga saat ini Rp137 miliar,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga senantiasa menyampaikan tentang beragam manfaat bagi lembaga atau perusahaan jika menunaikan ZIS melalui Baznas. Antara lain logo Taat Zakat dari Baznas yang bisa memberikan branding di mata masyarakat, Customized Program yang memperbolehkan perusahaan menentukan peruntukkan dana ZIS-nya, dan keuntungan pada sosialisasi.

“Dalam hal ini kami selalu mempublikasi siapa saja mitra yang sudah bekerja sama dengan Baznas. Dengan harapan mitra-mitra ini juga bisa dikenal oleh para calon muzaki,” ujar Rizaludin menutup paparannya yang berjudul Optimasi Pengumpulan Zakat: Praktik Kreatif Baznas dalam rangka Ekskalasi Pengumpulan di webinar tersebut.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.