Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Ekonomi tahunan di Jepang selama kuartal kedua tahun 2022, tepatnya pada bulan April hingga Juni terus mencatatkan kenaikan hingga Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang tumbuh mencapai 2,2 persen year on year (yoy).

Kenaikan tersebut terjadi setelah pemerintah mencabut aturan pembatasan wilayah. Hal inilah yang membuat sektor pariwisata mengalami pemulihan permintaan, hingga angka konsumsi swasta di Jepang melonjakan sebanyak 1,1 persen dan mendorong laju PDB melesat ke zona hijau.

Meski kenaikan PDB di kuartal kedua masih lebih kecil dari prediksi pasar, dimana para analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang tumbuh di kisaran 2,5 persen.

Baca juga: Sanae Takaichi Mengaku Bingung Ditunjuk PM Jepang Kishida Gantikan Posisi Takayuki Kobayashi

Namun berkat lonjakan tersebut, pertumbuhan ekonomi Jepang pada periode April hingga Juni dapat melaju lebih cepat ketimbang PDB di bulan Januari sampai Maret lalu yang hanya tumbuh 0,1 persen.

Tak hanya PDB saja yang mengalami pemulihan, mengutip dari Reuters belanja modal Jepang juga turut membukukan peningkatan dengan naik 1,4 persen, lebih besar dari perkiraan pasar yang hanya mematok angka belanja modal sebesar 0,9 persen.

Dengan pemulihan ini bahkan indeks inflasi Jepang untuk bulan Juli ikut terkerek turun, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi harga pangan di Jepang menyusut sebesar 3,7 dari 4,1 persen.

Sementara harga bahan bakar, listrik, dan air turun ke level 14 persen apabila dibandingkan dengan bulan Juni lalu saat harga energi dipatok 14,4 persen

Sebelum ekonomi Jepang menunjukan pemulihan, pada bulan lalu Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan Jepang dari 2,4 persen menjadi 1,7 persen, karena adanya pertumbuhan laju inflasi.

Merosotnya perekonomian Jepang bahkan membuat negara sakura ini tertinggal dari ekonomi negara Asia lainnya.

Baca juga: Kondisi Perekonomian Global Belum Membaik, Sejumlah Negara Berjuang Keluar dari Tekanan Ekonomi

Meski begitu bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) masih mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar dan enggan untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Hal ini karena BOJ masih menganggap inflasi di Jepang bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.

Rencananya kebijakan moneter ultra-longgar akan terus berlanjut hingga laju inflasi landai di angka 2 persen, langkah ini diambil untuk memulihkan harga konsumsi dan pertumbuhan upah, sehingga Ekonomi Jepang bisa terus stabil di tengah ancaman inflasi pasar global.


Artikel ini bersumber dari www.tribunnews.com.