TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Bank BTPN Tbk menegaskan komitmennya pada pembiayaan hijau yang berkelanjutan (green financing) di sektor perbankan demi menndukung implementasi Sustainable Deveopment Goals (SDGs) di Indonesia.

Untuk merealisasikan komitmen tersebut, BTPN menggunakan pendekatan environmental, social, and governance (ESG) dalam pembiayaan hijau.

Untuk sumber pendanaannya, BTPN kini melirik sumber pendanaan alternatif selain dana yang bersumber dari nasabah atau dana pihak ketiga (DPK), yakni green bond.

Minat BTPN memanfaatkan sumber dana dari green bond mengacu pada komitmen Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) sebagai pemilik BTPN yang saat ini aktif dan memiliki concern terhadap pembiayaan hijau di Indonesia.

SMBC sendiri melakukan mitigasi dampak perubahan iklim melalui program “Roadmap Addressing Climare Change” yang di dalamnya mencakup komitmen SMBC Group unuk mencapai nol emisi di  2030.

Head of Wholesale & Commercial Banking Bank BTPN Nathan Christianto dalam paparannya kepada media lewat virtual di Jakarta, Jumat (15/7/2022) menyatakan, selama ini sumber pendanaan dalam penyaluran kredit ke sektor berkelanjutan masih berasal dari DPK.

Baca juga: Green Bond Senilai Rp5 Triliun Mulai Efektif, Ini Sektor Sasaran BNI

Nathan menyatakan, dengan penyaluran kredit terkait ESG sekitar Rp 12 triliun per Desember 2021, Bank BTPN sudah bisa menciptakan produk berwawasan lingkungan dari sisi liability. Dengan demikian, BTPN bisa memiliki sumber pendanaan di luar DPK untuk mendukung pembiayaan ESG.

“Bisa bond (surat utang) instrumen maupun deposit yang bisa dibilang dikhususkan untuk sumber pendanaan. Ini memang masih dalam pemikiran kami, masih menunggu waktu yang tepat, kapan ini bisa kita keluarkan,” ujar Nathan.

Baca juga: Pembiayaan Hijau Belum Meluas di Pasar Modal, Penerbitan Green Bonds Masih Seret

Nathan menjelaskan, sampai akhir 2021, BTPN mengucurkan kredit pembiayaan hijau senilai Rp 12,35 triliun dengan rincian kredit ke sektor UMKM  Rp 6,16 triliun dan ke properti hijau Rp 1,06 triliun.

Penyaluran kredit ESG di BTPN ditujukan ke sektor energi terbarukan Rp 1,83 triliun, efisiensi energi Rp 580 miliar. Penyaluran kredit ini juga ditujukan ke pengelolaan SDA Hayati dan lahan berkelanjutan senilai Rp 2,29 triliun serta sektor transportasi ramah lingkungan Rp 430 miliar.

Laporan Reporter: Maizal Walfajri | Sumber: Kontan


Artikel ini bersumber dari www.tribunnews.com.